Rabu, 26 Oktober 2011

Tentang mu

Tentang mu yang selalu membuat mataku terpana karena citamu

Tentang mu yang membuat segalanya menjadi indah

Tentang mu yang dapat buatku tersenyum manis

Tentang mu yang membuat hari ku menjadi indah

Kamu yang dapat mengubahku menjadi lebih baik

Rasa cinta ini yang membuatku dapat bertahan sampai saat ini

jujur perasaan itu tidak bisa hilang di hati ini

citamuj begitu besar kurasakan MH

Rabu, 05 Oktober 2011

1.Laskar Pelangi (2008)

Laskar Pelangi (2008) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza yang dirilis pada 25 September 2008 dan merupakan adaptasi dari novel karangan Andrea Hirata, pada saat libur Lebaran. Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo yang juga menulis naskah film Ayat-Ayat Cinta dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Hingga Maret 2009, Laskar Pelangi telah ditonton oleh 4,6 juta orang. Themesongnya(by Nidji) pun sampai sekarang masih menjadi Lagu yang laris di Indonesia.

2. Tjoet Nja’ Dhien (1986)

Sebuah masterpiece! Tak ada yang menyangkal Tjoet Nja’ Dhien (1986) dibilang begitu. Film debut penyutradaraan Eros Djarot itu butuh waktu dua tahun buat menyelesaikannya. Pemeran utamanya, Christine Hakim jadi legenda hidup gara-gara film ini. Berkat Tjoet Nja’ Dhien, setiap aktris muda pasti menyebutnya sebagai panutan atau bintang idola. Tak ada yang menyangkal pula, sebagai Tjoet Nja’ Dhien, Christine berakting sempurna. Tak cuma Christine saja yang serba bagus di film ini. Filmnya sendiri, sebagai sebuah kesatuan karya sinema, nyaris tanpa cacat (diganjar 8 Piala Citra di FFI 1988). Tjoet Nja Dhien tak berisi uraian biografis kehidupan pahlawan dari Tanah Rencong itu. Melainkan juga berisi drama, pengkhianatan, dan kebesaran jiwa. Tak aneh rasanya kalau Tjoet Nja’ Dhien merupakan puncak pencapaian dunia perfilman kita yang belum terlewati hingga kini.

3. Naga Bonar (1986)

Lewat Naga Bonar, Asrul Sani lagi-lagi membuktikan bakat besarnya sebagai salah satu penulis cerita terbaik yang pernah dipunyai negeri ini. Asrul piawai menghadirkan dialog yang memicu tawa, yang begitu dipikir lebih dalam ternyata mengandung makna luhur. Naga Bonar hadir buat berkelakar. Namun, ia tak berkelakar sembarangan. Yang jadi bahan kelakar justru pejuang negeri saat perang kemerdekaan berlangsung. Naga Bonar menyindir pemujaan pada para pahlawan. Film ini berpesan, tak semua pejuang di masa lampau itu punya niat suci membela negeri. Ada yang cuma bisa bicara saja. Nah, Jenderal Naga Bonar (diperankan dengan gemilang oleh Deddy Mizwar) pun aslinya pencopet. Tapi dari sosok inilah kemurnian perjuangan lahir. Sebagai karya sinema, Naga Bonar tampil lengkap, berisi sekaligus menghibur; tergarap dengan baik, tanpa cacat cela. Pantas rasanya bila film ini memborong 7 Piala Citra di FI 1987.

4. Ada Apa dengan Cinta? (2001)

Ada Apa dengan Cinta? (AAdC?) jadi salah satu film penting negeri ini. Melahirkan tren yang sudah lama hilang dari jagad sinema kita: film bertema remaja. Selepas AAdC? lahir film-film bertema sejenis. Tren itu juga merambah ke teve. Sejak AAdC?, datang berduyun-duyun sinetron bertema remaja. Rasanya, sejak Gita Cinta dari SMA (1979) dulu baru ada lagi film Indonesia yang begitu digandrungi remaja. AAdC? tak kurang ditonton sekitar 2,7 juta orang di bioskop. Rudi Soedjarwo, sang sutradara, begitu lancar bertutur (Rudi dapat Piala Citra di FFI 2004).

5. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)

Film baik tak lekang dimakan zaman. Bertahun-tahun selewat peredarannya, film itu masih asyik buat ditonton. Nah, Kejarlah Daku Kau Kutangkap tipe film seperti itu. Penonton tak sekadar diajak tergelak. Semua ini berawal dari skenario cerdas yang dibuat Asrul Sani, pengarahan kuat dari Chaerul Umam, sang sutradara, yang digenapi akting prima dari Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Ully Artha, dan Ikranegara. Hasilnya, film ini layak ditasbihkan sebagai situasi komedi terbaik yang pernah dihasilkan sineas kita. Asrul berhasil membuat kelakar jenius tentang hubungan pria dan wanita. Dalam film ada hubungan Ramadhan (Deddy) dan Mona (Lydia) yang berkisar antara cinta dan benci, cinta dan gengsi, hingga cinta akhirnya mengalahkan segalanya.

6. Badai Pasti Berlalu (1977)

Badai Pasti Berlalu jadi film Teguh Karya yang paling laris ditonton. Tak kurang, saat beredar dulu, film ini masuk urutan kedua film terlaris 1978 (ditonton 212.551 orang). Padahal buat Teguh sendiri, ia terpaksa membuat film itu. “... ingin nafas, dan balas budi dari film-film terdahulu yang kurang laku. Selain saya ingin memvisualkan sebuah novel ke dalam bahasa visual,” ujarnya seperti dimuat Pikiran Rakyat pada 1978. Badai Pasti Berlalu memang diangkat dari novel pop. Hasilnya, ya film pop. Sebelum diangkat jadi film, kisahnya memang sudah populer duluan saat dimuat bersambung oleh Kompas dan kemudian dinovelkan. Hingga saat difilmkan, orang tentu ingin menontonnya. Apalagi yang membuatnya Teguh Karya, sutradara yang piawai membuat film-film bermutu. Selain itu, yang membuat Badai Pasti Berlalu dikenang juga lantaran tata musik berikut lagu temanya yang digubah Eros Djarot. Lagu temanya abadi hingga kini.

7.Arisan (2003)

Untuk ukuran tahun 2000-an sekarang, Arisan! paling tepat ditunjuk sebagai film yang menelanjangi kehidupan di zamannya. Tanpa tedeng aling-aling, Arisan! menampilkan problematika hidup kaum borjuis Jakarta. Ada perselingkuhan, dilema cinta sesama jenis, hingga upaya mempertahankan nilai-nilai keluarga. Semuanya campur-aduk dalam balutan komedi segar. Kepiawaian sang sutradara, Nia DiNata, menggarap realitas ini mengingatkan kita pada kemampuan senada yang dimiliki sutradara besar lain macam Sjuman Djaya atau Asrul Sani. Nia tak cuma menghibur, ia juga mengajak penonton untuk jujur pada diri sendiri. Pesannya jelas, kehidupan kaum jetset Jakarta dipenuhi topeng alias kemunafikan. Arisan! juga jadi darah segar saat perfilman kita yang bangkit lagi dipenuhi film remaja dan horor. Di luar itu, Arisan! yang jadi film terbaik FFI 2004 ini juga melahirkan bintang baru. Tora Sudiro (pemeran Sakti yang gay) namanya.

8. Gie (2005)

Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an, telah jadi sosok bak pahlawan. Pandangan dan kisah hidupnya memikat Mira Lesmana dan Riri Riza, pemilik Miles Productions. Keduanya lantas menggagas buat mengangkat kisah hidup Gie ke layar lebar. Hasilnya jadilah Gie. Akor ganteng Nicholas Saputra didapuk memerankan Soe Hok Gie. Tentu tampang Nico yang ganteng tak mirip Gie asli, akan tetapi ia bisa berakting (buktinya Nico diganjar FFI 2005 buat aktor terbaik). Sebuah gagasan yang mengingatkan kita pada mahakarya Usmar Ismail, Lewat Djam Malam (1954).

9.Si Doel Anak Betawi (1973)

Saat karya sastra diangkat ke layar lebar—di antaranya Salah Asuhan (1972)—Sjuman Djaya memilih mengadaptasi novel Aman Datoek Madjoindo berjudul Si Doel Anak Betawi. Ini cerita seputar suka-duka kehidupan Doel, seorang anak Betawi asli. Doel diperani Rano Karno saat masih kecil. Suka duka kehidupan Doel yang mencari figur ayah (setelah ditinggal mati ayahnya), melawan kerasnya hidup (ia harus membantu ibunya berjualan kue buat menyambung hidup), sampai menghadapi tekanan anak-anak nakal terekam baik.

10. Petualangan Sherina (1999)

Sebuah tontonan yang mengingatkan kita pada Home Alone (). Kala anak kecil mempecundangi orang dewasa. Petualangan Sherina jadi film besar lantaran dianggap sebagai penanda kebangkitan perfilman nasional. Sebelum Petualangan Sherina, bioskop tanah air melulu diisi film esek-esek. Baru setelah film ini datang, orangtua mengantre mengajak anaknya ke bioskop. Petualangan Sherina bertahan di bioskop selama berminggu-minggu. Film karya Riri Riza ini mampu mengundang 1,6 juta penonton ke bioskop. Jika Petualangan Sherina bukan film menarik, penontonnya mungkin tak sebanyak itu. Pada kenyataannya, sebagai karya sinema Petualangan Sherina bukanlah film buruk. Riri mampu bercerita dengan lancar diselingi lagu-lagu Sherina -- ini film musikal.

10 Film Indonesia Terbaik 2010

Film Terbaik tahun 2010 - Inilah 10 Film Indonesia terbaik sepanjang tahun 2010, setelah sebelumnya menginformasikan tentang 10 film paling kontroversial di tahun 2010.

1. SANG PENCERAH
Meski SANG PENCERAH tidak diloloskan Komite Seleksi Festival Film Indonesia, film yang mengangkat kisah kehidupan K.H. Ahmad Dahlan ini mendapat apresiasi bagus dari penonton. Sang sutradara, Hanung Bramantyo menyebut jumlah penontonnya mencapai angka 1,3 juta lebih. Setting film ini digarap maksimal dengan mempersiapkan busana dan rekayasa latar. Pujian datang dari berbagai kalangan. Hanung juga benar-benar serius dalam pemilihan karakter, pengarahan akting, dan atmosfer musik yang melatari. Dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai K.H. Ahmad Dahlan, Ihsan Idol sebagai Ahmad Dahlan Muda, dan Zaskia Adya Mecca sebagai Nyai Ahmad Dahlan dan dukungan pemain lain seperti Sujiwo Tejo, Yati Surahman, Slamet Rahardjo, Giring Nidji, Ikranegara, Dennis Adishwara, dan Agus Kuncoro. Tak heran jika setiap tokoh menjadi menonjol namun tetap tidak tumpang tindih. Hadir saat libur Lebaran, 8 September 2010, film ini menjadi film paling dinanti pada tahun 2010.


2. 3 HATI 2 Dunia 1 Cinta
Film produksi pertama PH Mizan ini digarap dengan detail. Naskah yang diangkat dari dua novel karangan Ben Sohib yang berjudul Da Peci Code dan Balada Rosid dan Delia. Merangkai realitas percintaan anak manusia yang terhalang perbedaan agama. Di Indonesia, kejadian tersebut sudah sering terjadi. Mengangkat tema realitas di masyarakat, film yang dirilis pada 1 Juli 2010 dengan disutradarai oleh Benni Setiawan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Apalagi film yang dibintangi antara lain oleh Reza Rahadian, Laura Basuki, dan Arumi Bachsin yang tayang pada masa libur sekolah.


3. ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)
ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) Selain skenario yang bagus, pemilihan pemain juga menjadi penentu bagus tidaknya sebuah film. Gabungan skenario dan pemain-pemain watak yang handal inilah yang membuat film ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) menjadi film drama komedi satire Indonesia yang cantik. Beberapa nama seperti Reza Rahadian, Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar, Tio Pakusadewo, dan Rina Hasyim terkenal sebagai pemain watak yang mampu membawa peran dengan baik.

Dirilis pada 15 April 2010 yang disutradarai oleh Deddy Mizwar, film ini memuat pesan kritik sosial. Film ini mencoba mengangkat potret nyata yang ada dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dalam nominasi Festival Film Indonesia 2010, ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) bersanding dengan nominasi lainnya.


4. RUMAH DARA
Dikepung oleh film horor nan seksi, dunia perfilman Indonesia laksana menggali kuburan bagi jumlah penonton. Sepanjang tahun 2010, banyak insan film mengakui penurunan jumlah penonton di bioskop salah satunya dikarenakan film horor dan seksi yang mendominasi. Kehadiran film RUMAH DARA menjadi pendobrak bagi pemikiran tersebut. Film horor murni bisa tampil bagus tanpa harus mengandalkan bagian tubuh wanita seksi. RUMAH DARA disutradarai oleh Mo Brothers dan dibintangi oleh Shareefa Daanish dan Julie Estelle sebagai tokoh utama. Film RUMAH DARA berkisah mengenai sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di rumah milik seorang pembunuh misterius yang bernama 'Dara'. Ketakutan dan mencekam terasa sekali saat menonton film ini. Kualitas gambar patut diacungi jempol, apalagi untuk mendapatkan darah, sang sutradara tidak menggunakan efek melainkan darah dari binatang. Sebelum diputar di Indonesia, film ini telah dibawa keliling dunia untuk beberapa festival. Dalam Independent Film Awards, film ini menerima delapan nominasi. Memenangkan dua, Best Actress untuk Shareefa Daanish dan Best Supporting Actress untuk Julie Estelle. Setelah itu RUMAH DARA lalu dirilis secara serempak di seluruh Indonesia pada tanggal 21 Januari 2010, prestasi lain dikantongi dengan terjualnya distribusi film ini ke Amerika Utara dan Eropa oleh Overlook Entertainment.


5. HARI UNTUK AMANDA
Mencoba merambah layar lebar, group MNC Pictures menghadirkan HARI UNTUK AMANDA. Dirilis pada 7 Januari 2010 dengan disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, film drama ini sebenarnya memiliki cerita yang sederhana. Kisah tentang kebimbangan hati dalam menentukan jodoh, menjadi sentral cerita. Konflik dalam film ini pun tidak rumit. Namun, meskipun sederhana pesan yang disampaikan dalam film ini benar-benar mengena. Film ini dibintangi oleh Oka Antara, Fanny Fabriana, Reza Rahadian, Kinaryosih, Gary Iskak, Rina Hasyim, Noveleta Dinar, dan Hengky Solaiman. Dipilihnya pemeran utama pria terfavorit IMA: Oka Antara dalam HARI UNTUK AMANDA semakin menegaskan nilai plus film ini.


6. TANAH AIR BETA
Kolaborasi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen dalam Alenia Pictures nyaris bisa ditebak, selalu mengangkat tema humanis yang melibatkan anak-anak dan keindahan landscape Indonesia. Dirilis pada 17 Juni 2010 dan disutradarai Ari Sihasale film ini dibintangi antara lain oleh Alexandra Gottardo, Lukman Sardi, Asrul Dahlan, dan lain-lain. Tema utama film ini adalah perpisahan Timor Timur dari Indonesia, yang membuat banyak keluarga yang mendapatkan konflik internal antara tetap berada di Indonesia, yakni di Kupang, atau memutuskan berpindah ke Timor Timur. Mengambil setting asli di Kupang, seolah penonton diajak 'melongok' perbatasan yang selama ini jarang terekspos. Bagaimana perjuangan seorang anak menemukan keluarganya yang enggan meninggalkan Timor Timur. Kondisi pengungsian yang kurang layak, tak membuat kecintaan pengungsi pada Indonesia. Karena itulah judul TANAH AIR BETA sungguh sangat tepat, rasa nasionalisme yang memudar bangkit oleh film ini.


7. MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK dirilis pada 10 Juni 2010. Butuh waktu hingga dua tahun untuk menyelesaikan produksi film ini. Disutradarai oleh Lola Amaria yang dibintangi antara lain oleh Lola Amaria dan Titi Sjuman, setting film ini lebih banyak di Hongkong. Mengangkat tema tentang suka duka TKW di Hongkong, MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK masuk sebagai salah satu nominasi film terbaik Festifal Film Indonesia 2010.

Meskipun kurang berhasil secara jumlah, namun setiap penonton yang menikmati film ini pasti merasa puas karena banyak hal baru yang mereka dapatkan dalam film ini. Tangan dingin Yadi Sugandi, sebagai sinematrografi, memaksimalkan gambar asli suasana Hongkong namun tetap indah dipandang. Cerita tentang cinta, membuat film yang sebenarnya membawa banyak pesan ini terasa ringan.

8. DARAH GARUDA
DARAH GARUDA atau MERAH PUTIH II (Internasional: Blood of Eagles) adalah film drama fiksi historis Indonesia yang dirilis tahun 2010 dan bagian kedua dari rangkaian film 'Trilogi Merdeka' yang merupakan trilogi film perjuangan pertama di Indonesia. Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Conor Allyn. Film ini dibintangi antara lain oleh Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Aryo Bayu, Teuku Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati, Rudy Wowor, Astri Nurdin, Alex Komang, dan Aldy Zulfikar.

Mengantongi penghargaan Bali International Film Festival, Los Angeles Asian Pacific Film Festival, Amsterdam Cinemasia Film Festival, Bandung Film Festival, dan Bangkok World Film Festival, Darah Garuda justru didiskualifikasi oleh Festival Film Indonesia. Meskipun ada beberapa cerita yang kurang logis, namun film ini mampu membuat penonton berdebar dengan efek-efek bagus ala film Hollywood. Kualitas suara film yang membutuhkan modal Rp 10 milliar ini patut diacungi jempol.

9. METAMORFORBLUS
Inilah film yang layak menyandang film dokumenter terbaik tahun 2010. Digarap selama dua tahun oleh Dosy Umar, film ini menitikberatkan pada aktivitas para Slanker, sebutan bagi para fans Slank, di Indonesia. Film berdurasi 98 menit itu menceritakan 3 orang Slanker dari 3 daerah yang berbeda. Karena tanpa rekayasa, film ini sangat mudah membuat penonton tersentuh. Kasih lintas generasi dan bangsa membuat Slank begitu manusiawi. Meskipun dengan gambar yang sederhana, kepolosan cerita menggugah penonton. Bagaimana Slanker memandang Slank. Bagaimana personil Slank memandang kehadiran Slanker. Lagu-lagu Slank menjadi kuat dan sarat makna dengan latar belakang cerita yang mendasari film ini.

Kritik pedas lewat seorang polisi yang juga Slanker, menjadikan film ini tidak ada ruang kosong dari awal. Bagaimana Lagu-lagu Slank mempengaruhi hidupnya, dedikasi dalam bertugas. Kisah lain adalah kisah bidadari penyelamat dari Jogja. Hampir hancur hidup seorang Slanker karena narkoba, surat tulisan tangan dari Bimbim Slank dan Bunda Iffet menyelamatkan hidupnya. Ayahnya, berusaha berterimakasih dengan menerobos jalan masuk konser untuk menemui Bimbim dan Bunda. Kisah terakhir adalah rombongan Slanker dari Kupang dalam mengurus passport untuk menyebrang ke Timor Leste tempat konser Slank. Meskipun sudah memisahkan diri, sambutan Slanker Timor Leste membuat pemisahan bangsa tak berarti.

10. I KNOW WHAT YOU DID ON FACEBOOK
I KNOW WHAT YOU DID ON FACEBOOK adalah film drama komedi yang disutradarai dan ditulis oleh Awi Suryadi, sutradara Claudia/Jasmine. Film yang dirilis tanggal 15 Juli 2010 ini menceritakan tentang kisah percintaan yang terjalin lewat situs jejaring sosial Facebook dan imbasnya yang terjadi di dunia nyata. Film ini dibintangi oleh Fanny Fabriana, Edo Borne, Imelda Therinne, Restu Sinaga, Agastia Kandau, dan memperkenalkan Kimi Jayanti sebagai salah satu pemain utama.

Tahun 2010 lebih banyak didominasi film horor seksi dan drama. Jadi, ketika film komedi muncul mampu memberi nilai tambah. Tema yang diangkat sangat populer di masyarakat, sehingga menarik perhatian. Ditambah banyaknya kasus penipuan gara-gara Facebook. Kejelian penulis skenario memilih tema ini patut dipuji. Mempersempit ruang cerita dengan mengerucutkan bagaimana Facebook mempengaruhi hubungan percintaan dan lelucon sepanjang film ini menjadikan film ini menarik dan tidak membosankan.